6 Tips Jalan-Jalan di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dari total 193 negara berdaulat. Total luas wilayah Indonesia sekita 5.000.000 km2. Memiliki 17 ribu pulau dari Aceh hingga Papua. Bayangkan, berapa lama kita bisa menghabiskan waktu, jika keliling Indonesia. Walaupun saat ini sudah ada pesawat hingga ke kabupaten yang jauh dari propinsi, tetap saja untuk menembus tempat-tempat yang indah apalagi berada di pedalaman memerlukan waktu mulai dari sehari hingga seminggu. Perjalanan yang dilalui tidak hanya udara, tetapi melewati darat dan air baik itu sungai atau laut.

Untuk melakukan perjalanan ini, perlu managemen perjalanan yang baik, sehingga saat melakukan travelling, kita tidak jatuh sakit, kelaparan hingga gatal-gatal karena digigit serangga. Melakukan perjalanan dengan cara apapun perlu persiapan yang matang. Cari tahu lokasi yang akan didatangi, yaitu:

  • Makanan

Makanan menjadi penting untuk menjaga stamina kita tetap berenergi. Tetapi kadang-kadang, makanan disuatu tempat, kalau kita tidak terbiasa makan, maka akan menjadi masalah juga. Misalnya saya pernah ke daerah Teluk Cendrawasih. Masyarakat disana makan dengan papeda atau singkong rebus atau talas rebus yang dikasih ikan bumbu kuning, sayur bunga pepaya campur kangkung. Saya yang terbiasa makan dengan nasi, perlu waktu untuk bisa menyesuaikan makanan disana. Dan akhinya saya suka makan talas dengan sayur dan ikan disana. Dimasa penyesuaian itu, dimanapun tempatnya saya suka bawa makanan yang tahan lama, seperti telur asin, cabe bubuk dan menu terbaru yang saya bawa yaitu tepung pisang. Makan telur asin bisa dicampur dengan cabe bubuk. Dan tepung pisang bisa dengan air hangat atau dengan susu. Kedua makanan itu cukup mengenyangkan untuk di perjalanan. Untuk mendapatkan cabe bubuk dan tepung pisang bisa membeli di toko online shop.

  • Listrik

Masih ada tempat-tempat di Indonesia yang belum teraliri listrik. Jika tempat yang akan didatangi memiliki listrik, kita cukup aman. Tapi bagaimana jika tidak ada listrik? Hal yang paling terasa, saat akan ke kamar mandi. Pasti akan kesulitan. Biasanya saya membawa senter. Usahakan tidak memakai senter HP kalau tidak kepepet. Khawatirnya, HP jatuh akan basah.Kembali kesenter, sebaiknya membawa senter dicash dengan sinar matahari. Saat siang, senter dijemur dibawah matahari. Dan malam hari bisa dimanfaatkan lagi. Dan biasanya saya membawa 2 senter. Dan untuk cash HP, kita perlu membawa power bank. Sekarang sudah banyak, power bank menggunakan sinar matahari juga.

  • Rute perjalanan yang akan kita lalui

Untuk mencapai lokasi, perjalanan yang dilalui apa saja. Melalui darat, sungai atau laut. Nah, kalau dalam perjalanan, biasanya kita suka masuk angin. Jangan lupa kita perlu menyiapkan obat-obat agar bisa mengurangi masuk angin. Karena saya termasuk orang yang jarang konsumsi obat-obatan kimia, biasanya saya membawa minyak kayu putih. Saat ini saya sudah membawa jahe merah celup didalam perjalanan saya. Alhamdulillah, saat minum ini masuk angin dan kepala pusing akibat perjalanan menjadi berkurang bahkan sembuh.

  • Nyamuk dan Agas (atau serangga lain). Hal yang sulit diprediksi ditempat yang akan didatangi adalah disana banyak nyamuk, agas atau serangga atau tidak. Seringkali saat saya sudah sampai dilokasi tersebut, baru tahu disana banyak agas atau nyamuk. Ini akan mengganggu saat malam, apalagi pas mau tidur. Sehingga, setiap dalam perjalanan, saya menyiapkan kelambu kecil untuk tidur.
  • Penginapan. Saya pernah menginap di losmen, di daerah Kalimantan. Tempat menginap itu bukan untuk orang tinggal beberapa hari, tetapi hanya untuk transit, jika kemalaman. Karena hanya menjadi transit, kebersihan tidak difikirkan. Sprei dan kasurnya bau. Sehingga kasur yang terhampar di lantai papan, berdirikan (tidak saya pakai). Saya pakai flysheet untuk mengalasi papan untuk tidur, yang selalu saya bawa. Lalu memakai bantal tiup dan memakai sarung panjang (sarung dua menjadi satu) untuk selimut. Begitu juga saat menginap di rumah penduduk, dibeberapa tempat di pedalaman, mereka tidak punya kamar serta persiapan untuk tamu menginap. Jadi kita bisa menyiapkan barang pribadi kita untuk tidur.
  • Peralatan pelengkap. Peralatan tambahan lain yang kecil, tetapi sering dicari dilapangan. Barang-barang yang ada dalam tas adalah pisau lipat, gunting kecil, jepit kuku, sendok, garpu, sumpit, gelas dan tempat makan lipat serta  jarum beserta benangnya.

Yuk… siapin perjalanan anda agar bisa menikmati semua perjalanan dengan senang, tidak membawa sampah banyak, dan mengurangi mengeluh. Karena jika sudah mengeluh, perjalanan menjadi tidak asik.

Sebagai informasi, beberapa perlengkapan beli online di Tokopedia, lazada dan bukalapak. Dan untuk makanan tepung pisang, cabe bubuk, jahe merah celup, bisa dibeli juga di online

toko Noar Metro: https://www.tokopedia.com/noar-metro?xClientId=DC4lJ27jnZz6wD6QneODghAsYNgGS8JMkBWZCNdMpqSl31xtpQkDFSfhNOXilS65&cid=DC4lJ27jnZz6wD6QneODghAsYNgGS8JMkBWZCNdMpqSl31xtpQkDFSfhNOXilS65&amp=true&_gl=1*janbmg*_ga*REM0bEoyN2puWno2d0Q2UW5lT0RnaEFzWU5nR1M4Sk1rQldaQ05kTXBxU2wzMXh0cFFrREZTZmhOT1hpbFM2N

3/12/2021

Doa Buat Sang Khalik

Ya… Allah, saat ini aku menengadahkan tangan

Memohon doa yang panjang, agar Kau kabulkan

Limpahkan rezeki yang banyak berupa kekayaan

Yang tidak habis hingga tujuh turunan

                Jika aku menjadi kaya, aku akan jalan-jalan ke luar negeri

                Membeli barang-barang mewah, edisi terbatas

                Beli mobil sport dengan kecepatan laju yang tinggi

                Membangun rumah bak istana dongeng tingkat sebelas

Ya… Allah, jangan Kau kabulkan doaku, jika harta yang ku dapat dengan cara…

Merusak jalan-jalan rakyat karena truk-truk perusahaanku dengan tonase berat

Mencemari sungai dan laut, hingga nelayan tidak mendapatkan ikan

Membuang polusi, hingga banyak orang yang tidak dapat menghirup udara bersih

Menghancurkan hutan, hingga hewan-hewan yang kehilangan rumah dan makanannya

                Ya… Allah, kabulkan doaku, untuk menjadi orang sederhana

                Tidak menyusahkan orang yang sudah susah

                Tidak menghancurkan alam dengan dalih apapun

                Tetapkan aku bisa keluar negeri untuk bisa berangkat Haji

Metro, 8 Agustus 2020

novi

AKU SEDANG BELAJAR

Maafkan aku sang Mentari
Bukan aku tidak menyadari kehadiranmu
Yang memberikan semangat juang nan tinggi
Tetapi saat ini aku sedang belajar menghapus mendung di wajahku

Maafkan aku sang angin
Bukan aku tidak merasakan belaianmu nan sejuk
Mengantarkan lelapku dalam ayunan mimpi
Tetapi saat ini aku sedang belajar melawan badai di tubuhku

Maafkan aku sang rembulan
Bukan aku tidak menikmati pancaran senyum sahajamu
Yang memberikan ketenangan dalam pikiran yang gundah
Tetapi saat ini aku sedang belajar untuk tersenyum seperti dirimu

Maafkan aku sang hujan
Bukan aku tidak merindukan nyanyian rintik suaramu
Yang mendinginkan tubuh yang terbakar
Tetapi saat ini aku sedang belajar memadamkan sendiri bara api di tubuhku

Bogor, 24 Maret 2012

KUNDIL, SEMUT PEMBERANI

Halo adik-adik. Ketemu lagi dengan Kak Novi. Kali ini kakak akan bercerita tentang Kundil, si semut pemberani. Sebelum kakak bercerita, apa kalian sudah melakukan kegiatan menjaga bumi? Seperti tidak membuang sampah sembarangan, mematikan lampu yang tidak diperlukan, mematikan kran air jika ember sudah penuh, menghemat penggunaan kertas dan masih banyak lagi yang bisa kalian lakukan tanpa harus menunggu perintah orang lain. Semoga kalian sudah lakukan itu. Sekarang duduk yang manis, kakak akan bercerita.

Kundil mencium bau makanan. “Aroma apa ini?” dia berkata pelan, sembari berjalan perlahan mencari sumber aroma itu. Dia hanya berjalan seorang diri. Teman-temannya tidak ada disampingnya saat ini. Dia mengelilingi tempat yang cukup luas dibandingkan ukuran tubuhnya yang kecil. Karena dia hanya seekor semut hitam yang kecil.

Aroma itu semakin dekat dengan penciumannya.Tiba-tiba antenenya meraba serpihan yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Dicium dan dicicipi serpihan itu. Terasa gurih dan enak.

“Horeeeee!!! Aku menemukan makanan enakkkk!!!!” Kundil berteriak girang. Cepat ditarik serpihan itu dengan sepasang rahangnya atau mandibula. Aku harus pulang, dan memberitahu para semut pekerja yang lain, bisiknya dalam hati.

Kundil, si semut hitam itu berjalan tergesa-gesa dan berputar-putar mencari rumahnya. Cukup sulit mencari rumah, karena waktu dia pergi hanya sendiri, lalu berputar-putar. Setelah cukup lama berjalan, dari jauh dia melihat ayah dan ibunya sedang berdiri diantar beberapa semut dewasa yang lain. Wajah kedua orangtua terlihat cemas dan pucat. Tetapi dengan tiba-tiba terlihat gembira, saat melihat dirinya datang mendekat.
“Kamu dari mana nak?” ibu bertanya khawatir.
“Kundil menemukan tempat makanan ibu” jawab kundil gembira sembari meletakkan serpihan makanan yang ia bawa. Lalu pekerja yang lebih dewasa membawa makanan yang dibawa kundil masuk ke dalam sarang.

Mendengar Kundil menemukan tempat makanan baru semua semut senang, dan memberi selamat pada Kundil. Karena biasanya hanya semut yang sudah tua yang melakukan mencari makan. Dan semua semut tahu, resiko mencari makan sangat besar yaitu kematian tinggi.

“Tapi setelah nanti kamu menunjukkan tempat makanan itu, kamu tidak boleh ikut lagi”. Ayah Kundil berbicara pelan. Kundil mengangguk. Dia tahu orangtuanya melarang, karena sayang pada dirinya. Dan kali ini yang menjadi pemimpin dalam mencari sumber makanan itu dipercayakan pada ayah Kundil.

Kundil berjalan dibagian depan. Lalu diikuti oleh ayah dan 5 orang semut pekerja yang lain. Tidak seluruh semut diturunkan untuk pencarian makan ini. Mereka juga bertugas melihat situasi di tempat yang baru itu, aman atau tidak. Para semut itu belum membentuk formasi beriringan. Mereka juga masih berkeliling-keliling, hingga menemukan tempat yang dituju. 5 semut pekerja menyebar, mencari sumber makanan. Karena yang mereka temukan hanya remahan.Sementara Kundil di perintahkan oleh ayahnya membawa remahan yang bisa dia bawa pulang, sekaligus memberitahu pekerja yang lain.

“Horeeee!!!” Salah satu pekerja semut berteriak dari tempat yang lebih tinggi berwarna hijau. “Disini sumber makanannyaaaa!!”! Teriaknya pada pekerja semut yang lain.

Rupanya serpihan itu adalah keju parut berada diatas sebuah piring hijau. Pekerja yang berada dipiring itu turun dengan membawa parutan keju yang lebih besar dari tubuhnya. Sesampainya di bawah piring, temannya sudah menunggu dan melanjutkan membawa, sementara pekerja si pekerja itu beristirahat dengan berputar-putar.

Selang 7 menit, pasukan bantuan datang dengan jumlah cukup banyak. Tetapi jumlah itu belum cukup untuk membuat formasi berbaris. Mereka berkeliaran dan berkeliling lokasi. Saat menemukan keju yang lebih besar, mereka membawa bersama-sama, didampingi oleh semut pekerja yang lain. Jadi jika salah satu kelelahan, maka semut yang mendampingi akan ada penggantinya sekaligus penunjuk arah, jika menemukan jalan yang sulit.

Saat mereka mulai berdiskusi cara membawa semua serpihan keju itu ke rumah mereka, datang satu tangan raksasa mengangkat piring tersebut dan berpindah ketempat lain. Mereka tidak tahu, tempat itu dipindahkan kemana, karena mereka memiliki penglihatan yang buruk dan bahkan ada yang buta.

Beberapa semut pekerja kembali berkeliling-keliling mencari sumber makanan yang dipindahkan tersebut. Untung mereka memiliki antene untuk mendeteksi segala sesuatu yang ada di depannya, termasuk untuk berkomunikasi dengan semut lain.

Balabantuan selalu datang untuk membantu semut-semut yang sedang mencari makanan. Mereka belum membentuk formasi baris berjejer. Ketakutan akan sebuah kematian membuat mereka selalu berhati-hati. Selain ada yang bertugas mencari makan, ada juga yang membuat jalur jalan yang aman untuk mereka lewati. Para semut berjaga-jaga di lokasi-lokasi yang akan dilewati. Mereka akan menggigit jika temannya di ganggu, sekalipun resikonya mereka harus mati.

Sementara di sarang, para semut termasuk Kundil ikut membantu para pekerja menimbun makanan. Semut akan selalu membawa makanannya pulang, dan berbagi bersama teman-teman mereka.
“Kamu tidak lelah Kundil?” suara ibu mengagetkannya
“Tidak bu. Kundil senang, karena bisa membantu pekerja lain” jawab Kundil, lalu melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba Kundil berhenti, menatap ibunya dan berkata “Nanti kalau Kundil sudah besar, ingin seperti ayah. Menjadi semut pekerja yang pemberani dan pandai mengatur strategi”. Ibu terharu. Dipeluknya anak semata wayang itu. “Kamu pasti bisa Kundil. Dari kecil sudah terlihat kalau kamu anak pemberani” jawab Ibu bijak. Kundil senang, karena ibu percaya bahwa dia mampu.

Semut terus bekerja mencari makanan tanpa lelah, siang dan malam. Tidak ada seekor semutpun yang memakan makanan itu sendiri. Mereka selalu membawa pulang makanan ke sarang, lalu dimakan bersama-sama.

Nah, begitu adik-adik cerita dari Kak Novi. Semoga cerita ini bisa membuat kalian jadi anak pemberani, setia kawan, dan peduli pada orang lain. Ingat! Tetap jaga bumi kita.

Manokwari, Impian Lama

Bandara Rendani Manokwari. Saat pengambilan barangPerjalanan yang memakan waktu cukup lama untuk sampai di kota Manokwari. Pukul 20.00 WIB pesawat Batavia berangkat. Sempat transit selama 30 menit di Bandar Udara Hasanudin Makasar, Pesawat melanjutkan perjalanan menembus kelamnya malam. Pukul 06.00 WIT, sampailah aku di Bandar Udara Rendani Manokwari.

Suasana tempat kedatangan yang sangat sederhana. Tidak ada tempat duduk. kami semua berdiri menunggu barang-barang datang. Ketika barang datang, petugas berteriak memanggil nama-nama para penumpang. Terjadi ajang perebutan utuk mendapatkan tas koper. Hingga saat tas terakhir, aku bisa melihat tasku di pegang petugas bandara, dan berteriak memanggil namaku. Hu….u lega rasanya, terbebas dari himpitan kerumunan orang-orang.

Mobil yang menjemput sudah menunggu. Tak sabar rasanya menghirup udara kota yang menjadi salah satu impianku. Papuaaaa!!!!! Aku datang.

Rupanya kota ini tidak jauh berbeda dengan kota-kota yang sempat ku datangi. Tidak seperti dalam hayalanku, yang akan melihat uniknya bangunan-bangunan rumah adat atau gugusan pegunungan yang melingkupi kota. Hingga akhirnya aku sampai di dalam kamar hotel, mirip dengan hotel-hotel yang pernah aku inapi.

Sore hari, aku berjalan di kota itu. Keunikan pertama baru kulihat. Warga kota suka berjalan. Dan banyak dari mereka yang tidak memakai alas kaki, serta menyandang tas rajutan. Biasanya tas rajutan itu diisi pinang.

Keunikan kedua kau temui lagi, saat mulai berinteraksi dengan guru-guru dari wondama dan nabire. Ya, saat itu aku sedang menjadi fasilitator untuk pelatihan guru-guru tentang Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan. Disini aku melihat, sisi lain dari bangsa Indonesia yang berada paling timur. Mereka sangat responsif. Jika ada yang menurut mereka tidak sesuai dihati, mereka akan langsung berkata di forum. Mereka akan siap berdebat, mempertahankan argumennya. Hingga perdebatan selesai. Bagiku perdebatan itu hal biasa. Tidak perlu mencari yang benar dan salah. Tetapi mencari jalan keluar dari sebuah masalah. Tetapi tidak dengan mereka. Mereka melakukan perenungan. Dan surpraisss!!!!! Mereka menghampiriku di akhir kegiatan hari itu untuk meminta maaf. Lalu mengakui kesalahannya.

Disinilah aku kembali belajar, tentang cultur bangsaku. . Aku belajar….aku belajar disini.

Setelah pelatihan selesai, mulailah aku menemukan keunikan kota ini dengan alam yang indah. Laut yang biruuuuu!!! Aku datang!. Berenang, bergembira dengan air yang jernih dan sedikit sampah plastik. Ketegangan otakku mengendur. Berenang, bermain pasir, dan memandang matahari kembali ke peraduan. Senang rasanya. Dan rasa tidak sabar untuk bisa datang lagi kesini, terutama ke Nabire untuk mendatangi pulau-pulau di seberang.
Mimpi lama untuk sampai di Papua mulai terwujud. Aku yakin, satu persatu propinsi yang ada disini akan ku datangi, seperti satu persatu setiap kota hingga sudut kampung di kalimantan telah ku singgahi. Selamat tinggal Manokwari. Tunggu aku kembali 2 atau 3 bulan yang akan datang. Kan ku hirup kembali aroma lautmu dan para penikmat pinang yang berjalan-jalan di setiap sudut kota dan kampung. Kan kubidik kameraku untuk alam dan budayamu. Hingga seluruh orang tahu, inilah keunikan bangsa Indonesia.

Putri

Ku lihat seolah embun jatuh di wajahnya

Berkilau bersinar di terpa matahari pagi

Menyegarkan mata yang memandang

membasahi hati yang kering

Ku melihat seperti kelopak bunga yang merekah kala dia tertawa

Memberikan harum mewangi sekitarnya

Memancarkan keindahan

Menghidupkan suasana yang gersang

Ku melihat seperti putri malu yang tersentuh kala engkau tersipu

Merengkuh dan menguncup

Ketika lengah, engkau kembali merekah

Mengembalikan semangat yang hampir layu

Engkau adalah cerminan seorang putri

Bukan kecantikan fisik yang membuat ini terlihat

Kecantikan yang keluar dari dalam dirimu

Memancar kebaikan, keimanan dan ketakwaan.

Metro, 22 Juni 2011

APA YANG TERJADI……….

Kesederhanaan  kami di mulai dari desa-desa

menjunjung tinggi gotong royong dan saling menolong

menjaga sesama seperti menjaga diri sendiri

Bangun desa bersama dengan keringat keceriaan

 

Kekayaan kami dimulai dari mengeruk desa-desa

Membodohi kesederhanaan menjadi keserakahan

Menjaga diri dan keluarga adalah tujuan utama

Membangun desa, sebuah ajang penipuan panjang

 

Ketertindasan di mulai dari desa-desa

Masyarakat nan lugu senang dengan janji-janji manis

Janji-janji yang siap menerkam mereka

Hingga masuk ke mulut harimau mereka tidak sadar

 

Kesengsaraan di mulai dari desa-desa

sumber daya alam habis tanpa mereka merasakan

Alam rusak tanpa mereka sadari sebagai pelaku

Bencana datang merekalah yang pertama merasakan

 

Kesederhanaan di mulai dari desa-desa

Kekayaan mengeruk sumber daya alam desa-desa

Ketertindasan masyarakat nan lugu di desa-desa

Kesengsaraan hingga masuk ke mulut harimau

Hujan Sore Ini

Rinai hujan turun membasahi bumi

Sesore hari yang dingin menenggelamkan rasa

Rasa yang tercampak dan hilang dihapus hujan

Namun jejak itu masih ada

Kemana sang burung dan tonggeret berlari

Disaat keberadaannya adalah sahabat dalam kelam

Yang mampu menghilangkan sejenak penat pikiran yang terbang

Dibawa oleh kepakakan sayap nan elok

Bogor, 24 Mei 2011

Capung Sang Penerbang Handal

Hari ini Biyantara berkemas-kemas. Tidak lupa mainan pesawat helicopter kesayangannya ikut di masukan dalam ransel. Sebenarnya ide liburan sekolah ke rumah nenek di desa tidak dia suka. Dia lebih senang liburan di Jakarta. Karena dia bisa bermain helicopter dan playstation sepuasnya. Sedangkan di rumah nenek hanya ada televisi dengan stasiun lebih sedikit.

“Biyan! sudah berkemasnya? kita mau berangkat sekarang?” terdengar teriakan mama dari ruang tamu

“Iya ma! sebentar lagi”. Cepat Biyan memasukan semua baju-bajunya ke dalam ransel. Masih dengan membawa wajah kesal, dia keluar dari kamarnya. Mama dan Papanya sudah menunggu di dalam mobil. Biyan membuka pintu mobil tengah, dan duduk dengan wajah masih merengut. Dia masih kesal, karena papa dan mama hanya mengantar dia ke rumah nenek, setelah itu mereka kembali di Jakarta.

“Biyan, jangan merengut terus dong?” mama berbicara sembari menoleh ke belakang. “Nenek kangen sama kamu. Dan kesempatan hanya ada di waktu kamu liburan. Pasti kamu akan senang disana,” mama berusaha memberi pengertian pada Biyan.

Biyan tidak menjawab. Cukup dengan wajah yang masih merengut, mama tahu Biyananak laki-laki satu-satunya itu masih kesal.

Perjalanan ke rumah nenek hanya 2 jam. Nenek menyambut mereka dengan senang, dan langsung memeluk Biyan.

“Wah cucu nenek, sekarang sudah besar dan tambah ganteng?!” seru Nenek bahagia.

Biyan cuma senyum saja. Pikirannya masih melayang. Apa yang bisa dia lakukan di desa yang sepi seperti ini? pasti liburan seminggu disini seperti setahun.

“Ayo Biyan. Nenek tunjukkan kamar kamu,” nenek menggandeng tangan sang cucu ke kamar yang paling depan. Kamar itu bersih, ada satu lemari dan meja. Tidak ada televisi atau tape di kamar itu. Tidak seperti kamar dia yang di Jakarta semua ada di dalam kamar. Biyan masuk, meletakkan tas ranselnya. Nenek meninggalkan Biyan di kamar itu sendiri. Terdengar suara mama dan papa bercakap-cakap dengan nenek. Sorenya, mama dan papa pulang. Sementara Biyan tetap tinggal dengan nenek.

Nenek sangat baik sama Biyan. Tapi dia merasa kesepian, karena tidak ada playstation. Malam hari Biyan tidur lebih cepat dari biasanya, karena sudah tidak ada yang bisa dia lakukan. Paginya, nenek mengajak Biyan ke kebun belakang. Nenek mengajak Biyan untuk panen tomat.

“Cari tomat yang berwarna merah atau yang sudah ada marah-merahnya sedikit,” ujar nenek sembari memetik tomat dimasukan ke dalam keranjang. Biyan memetik tomat itu.

“Nek, bolehkan Biyan memakan tomat ini langsung?” Tanya biyan sembari memegang tomat yang berwarna merah segar.

“Boleh. Tapi kamu cuci dulu.”

Biyan berlari ke anak sungai yang tidak jauh dari kebun nenek, lalu dia mencuci tomat itu. Rupanya di seberang sungai itu, ada tanah lapang yang luas. Terpikir olehnya untuk mencoba helicopter baru yang dibelikan oleh papanya.

“Nek, setelah panen tomat ini, boleh Biyan bermain di tanah lapang itu?” Biyan bertanya sembari tangannya menunjuk tanah lapang itu.

Nenek tersenyum sambil memberikan anggukan.

Biyan langsung berlonjak gembira. Dia akan mencoba kehebatan pesawat helicopter yang memakai remote control itu. Rasanya tidak sabar untuk menyelesaikan panen ini. Dia ingin cepat bermain, walau hanya sendiri. Melihat kegembiraan itu, nenek menjadi senang.

“Biyan, kalau kamu mau main sekarang pergilah. Biar nenek yang panen tomat. Sebentar lagi juga selesai.” .

“Benar nek. Apa nenek tidak capek panen sendiri?”

“Tidak. nenek sudah biasa. Tadi nenek mengajak kamu panen supaya kamu tidak bosan berada di dalam rumah. Sekarang kalau kamu mau main tidak apa-apa”

Biyan berlari ke rumah nenek. Cepat dia mengambil pesawat helikopternya, lalu berlari ke tanah lapang. Dia membaca manual yang ada di dalam kotak tersebut. Helicopter terbang. Sesekali dia menahan helicopter melayang dengan posisi tetap, dan sesekali mencoba menukik.

“Asik!!! berhasil!” Biyan teriak senang. karena helicopter dapat terbang sesuai yang dia inginkan. Setelah puas, dia pulang ke rumahnya. Besoknya, kembali Biyan berlari ke tanah lapang itu. Dia akan mencoba berbagai atraksi di udara. Rupanya pagi itu ada seorang anak yang duduk dibawah pohon dekat sungai sedang menggambar. Karena tidak kenal, maka Biyan tidak menyapa anak itu. Biyan asik dengan segala atraksi yang dia coba. Mulai atraksi berputar, lepas landas secara tegak lurus, bertahan di udara tanpa maju atau mundur.

“Sempurna!” Biyan berteriak dengan senang.

Biyan sedikit melirik anak yang sedang menggambar. Anak itu rupanya terpana melihat atraksi helicopter Biyan. Dan anak kota ini merasa bangga. Tetapi setelah Biyan berhenti, anak itu sibuk menggambar lagi. Biyan penasaran ingin tahu gambar yang dibuat anak itu. Biyan berjalan mendekati anak itu.

“Hai” Biyan menyapa anak itu.

Anak itu cepat menutup buku gambarnya ketika mendengar Biyan menyapanya. Tapi Biyan masih sempat melihat gambar yang dibuat anak itu. Gambar helicopter dia yang sedang lepas landas secara tegak lurus. Anak itu berdiri sambil memegang buku gambarnya.

“Nama saya Biyan. Nama kamu siapa?” kembali Biyan menyapa lebih dahulu sembari mengulurkan tangan, karena tidak ada jawab dari si anak.

Dengan ragu anak itu mengulurkan tangannya. Lalu dia membuka buku gambarnya, menulis sebuah nama “Egi”. Baru Biyan tahu, anak itu bisu. Tidak bisa berbicara, tetapi bisa mendengar dan menulis.

“Boleh saya melihat gambar kamu yang lain?” Biyan bertanya dengan pelan dan hati-hati.

Anak itu menganggukkan kepala. Dia mulai membuka halaman pertama buku gambarnya. Terlihat gambar capung sedang terbang. Lembar berikutnya juga masih gambar capung yang beratraksi, hingga akhirya terlihat pesawat helicopter miliknya  yang sedang lepas landas tegak lurus, dan di sebelahnya gambar capung dengan atraksi yang sama.

Biyan takjub. Karena semua atraksi yang dia lakukan tadi, sama dengan capung. Dan dia tidak pernah memperhatikan itu, padahal banyak capung beterbangan ditanah lapang ini.

“Gambar kamu bagus,” Biyan berkata jujur

Egi tersenyum senang mendapat pujian itu. Egi melakukan gerakan tangan menunjuk helicopter dan capung lalu menggerakkan kedua tangannya seperti terbang. Biyan bingung mengartikan bahasa isyarat itu. Melihat kebingungan itu, Egi menulis sesuatu di kertas gambarnya.

“Gerakan helicopter kamu dengan capung itu sama. Tapi kecepatannya berbeda. Capung jauh lebih cepat”.

“Oya?” Biyan menjawab seolah tak percaya. Egi menulis lagi di buku gambarnya.

“Besok, pagi kita bertemu lagi disini. Kamu bisa melihat cara capung terbang, dan kamu bisa mencoba mengikuti gerakan itu dengan helicopter kamu”

Biyan mengangguk setuju. Dan dia merasa senang, memiliki seorang teman yang pintar menggambar dan mengerti tentang capung. Pertemuan dengan Egi tidak diceritakan pada neneknya. Tetapi terlihat sekali wajah gembira Biyan. Dan nenek melihat itu.

“Senang sekali kamu hari ini Biyan?”

“Iya nek. Karena helicopter yang di beli papa sangat bagus. Besok bolehkan Biyan bermain ke tanah lapang itu pagi-pagi?”

“O…tentu saja boleh. Asal jangan lupa sarapan.”

“Iya nek.” Lalu Biyan masuk ke dalam kamarnya. Tak sabar rasanya menunggu esok pagi.

Esoknya, di bawah pohon di dekat sungai, terlihat Egi dan Biyan sedang memperhatikan capung terbang. “Apa yang kamu ketahui tentang capung-capung itu Gi?” Biyan memecah kesunyian antara mereka. Egi mengambil kertas gambarnya. Lalu menuliskan kalimat.

“Kalau kamu mau tahu, besok saya akan mengajak kamu ke suatu tempat. Tapi kamu harus izin dengan nenek , karena akan pulang sore. Sekarang saya akan menyelesaikan gambar capung dan helicopter kamu.”

Biyan mengangguk setuju. Tetapi dia bingung, bagaimana dia izin dengan neneknya. Semoga nenek memperbolehkan ucapnya di dalam hati. Rupanya, nenek memperbolehkan Biyan bermain sampai sore hari. Nenek tidak khawatir, karena desa ini aman. Berbeda jika dia di Jakarta. Dia tidak boleh keluar dari pagar rumah. Papa dan mama takut kalau dia di culik. Cara supaya Biyan betah di rumah, dengan mencukupi semua kesenangan Biyan, seperti mainan pesawat terbang, mobil-mobilan, DVD player, TV dan Play Station. Esoknya, Biyan dan Egi berjalan memasuki hutan kecil yang ada di desa itu. Egi berjalan di depan. Di dekat sungai kecil yang airnya jernih, Egi berhenti dan memegang tangan Biyan. Tiba-tiba tempat itu menjadi gelap, lalu mereka seperti berada di tempat lain. Tempat yang banyak di huni capung yang sedang berterbangan. Biyan memegang tangan Egi. Dia ketakutan.

“Tidak usah takut Biyan. Kamu akan baik-baik saja” ujar Egi sambil tersenyum.

Biyan terkejut, karena mendengar Egi bisa bicara. Padahal selama ini dia bisu.

“Kamu bisa bicara? tadi kamu bisu. Siapa kamu?” wajah Biyan pucat pasi. Dia sangat takut sekali.

“Sebenarnya saya adalah capung. Waktu melihat kamu menerbangkan pesawat helicopter, saya sangat tertarik karena gerakan helicopter itu mirip dengan gerakan yang kami lakukan di udara. Saya memohon pada pimpinan capung disini untuk merubah saya menjadi manusia untuk sementara. Pemimpin itu mengabulkan permohonan saya, tetapi saya bisu. Itulah mengapa saya selalu membawa buku gambar dan alat tulis. Selain untuk menggambar capung dan helicopter kamu, saya bisa berkomunikasi dengan kamu”.

Biyan masih diam, dan ketakutan.

“Ayo ikut saya. Kamu akan melihat banyak kehidupan kami,” Egi memegang tangan Biyan, dan mengajaknya ke pinggir sungai. Terlihat disana, seekor hewan memanjat batang tanaman yang ada di sungai, lalu melepas pembungkus tubuhnya. Hewan itu berubah jadi capung. Biyan kaget, karena dia tidak mengira jika hewan itu berubah menjadi capung.

“itu nimfa atau naiad. Sebelum kami menjadi capung, terlebih dahulu kami menjadi telur, berubah menjadi nimfa, lalu capung,” Egi menerangkan sebelum Biyan bertanya. Lalu Biyan memperhatikan capung yang baru keluar dari nimfa itu. Sayapnya masih melipat. terlihat gerakan yang tidak di mengerti oleh Biyan.

“Dia sedang melakukan apa gi?” Tanya Biyan dengan mata tidak lepas dari capung tersebut

“Dia sedang memompakan kelebihan cairan keluar agar sayapnya bisa berkembang dan dia bisa terbang.”

“Kamu tahu, selama menjadi nimfa, kami bisa bertahan 4 – 5 tahun. Saat itu kami memakan berudu dan ikan-ikan kecil. Tapi setelah kami menjadi capung, umur kami hanya sampai 4 bulan. Dan kami menangkap dan memangsa hewan di udara seperti kutu, ngengat, nyamuk, kupu-kupu dan kepik. Dan mata kami memiliki pandangan yang sangat luas, hingga tahu pandangan di belakang. Sepasang mata kami, masing-masing memiliki 30.000 lensa yang berbeda. Kehebatan dan kecepatan terbang kami bermanfaat saat berburu mangsa. Kami dapat berhenti tiba-tiba dan terbang berlawanan arah dengan kecepatan berapapun”.

Tidak terasa, waktu begitu cepat. Biyan masih dengan ketakjuban, tiba-tiba Egi menyentuh lengannya. Biyan kembali berada di sungai dekat lapangan dia bermain, tetapi dia hanya sendiri.

“Egiiiii!!! dimana kamu?”

Teriakan Biyan, hanya menggema dan kembali dia mendengar panggilannya sendiri. Hari sudah sore, Biyan takut nenek cemas, dia cepat berlari pulang ke rumah. Dia berharap, besok bisa bertemu dengan Egi lagi. Esoknya Biyan sudah berada di tanah lapang. Tetapi dia tidak menemukan Egi. Dia hanya melihat banyak capung yang berterbangan. Tiba-tiba ada satu capung terbang mendekatinya, dan berbisik di telinganya.

“Biyan, ini aku Egi. Ayo mainkan helikoptermu. Kamu akan melihat, bagaiman cepatnya saya terbang dan menukik”

“Egi, saya senang kamu masih menemani saya disini. Ayo kita balapan!”

Biyan mulai memainkan helicopter dengan remote di tangannya. Egi berada di sebelah helicopter itu. Lalu keduanya melesat terbang. Dan pemenangnya adalah Egi. bahkan Egi mampu mundur, berbalik arah lalu terbang. Biyan tertawa senang. Karena gerakan Egi begitu indah. Tak terasa hari sudah sore. Terlihat wajah Biyan sedih.

“Ada apa Biyan? kok kamu bersedih. bukankah tadi kamu tertawa gembira?”

“Besok saya akan pulang ke Jakarta. Saya sedih, karena tidak bisa bermain lagi dengan kamu. Di Jakarta, saya hanya bermain sendiri di dalam kamar”.

Egi terbang ke arah pohon, tempat dia biasa duduk. Rupanya disana ada buku gambar, yang biasa di pakai Egi untuk menggambar. Dengan gerakan sayap dan kepala, Egi meminta Biyan mengambil buku gambar itu.

“Ambillah buku gambar itu Biyan. Ini sebagai kenang-kenangan. Gambar-gambar capung yang ada di buku itu adalah gambar diriku sendiri. Jika kamu kangen, kamu bisa pandangi buku gambar ini. Semoga kita masih bisa bertemu”

Biyan sedih. Dia meneteskan air mata. Dia akan kehilangan teman yang baik.

“Biyan, jangan bersedih. Kamu bisa cerita pada temanmu tentang capung dan helicopter. Pasti mereka senang, dan kamu akan memiliki banyak kawan”.

Esoknya, terlihat Biyan sudah masuk dalam mobil. Papa dan Mama melihat raut kesedihan di wajah Biyan. Mereka berfikir, Biyan akan berlonjak kegirangan karena pulang ke Jakarta. Tetapi Papa dan Mama sepakat untuk diam, dan tidak bertanya tentang kesedihan itu. Saat mobil melaju, Biyan melihat seekor capung terbang di dekat jendela mobilnya, tanpa menabrak mobil. Biyan melambaikan tangannya. Dia tahu, itu Egi sahabatnya.

Di dalam kelas, terlihat Biyan sedang menceritakan tentang kehebatan capung dan membandingkan dengan pesawat helicopter. Dan dia juga memperlihatkan gambar-gambar yang dibuat oleh Egi. Seisi kelas dan guru kagum dengan cerita Biyan. Setelah Biyan selesai cerita, Bu guru meminta tulisan Biyan di tempel di mading sekolah, beserta gambar yang dibuat Egi. Semua anak jadi mengenal Biyan, karena tulisan yang dia buat, walaupun mereka semua penasaran teman Biyan bernama Egi  yang jago menggambar. Biyan sekarang banyak kawan. Dalam tidurnya Biyan berharap bisa bertemu Egi untuk mengucapkan kata terimakasih. Berkat Egi, Biyan sekarang tidak kesepian. Di sekolah dia banyak teman, dan di rumah teman-temannya datang untuk belajar bersama tentang pelajaran dan keunikan-keunikan hewan-hewan yang ada disekitar mereka. Kini Biyan sudah tidak kesepian lagi.

Metro, 28 February 2011

AIR MATA KESEDIHAN

Kegelisahan awan menyambut datangnya kabut pekat berwarna hitam

Meneteskan titik air mata berasa asam

Hewan-hewan berlari mencari perlindungan

Melindungi kulit tubuh agar tidak gatal

Tetapi tanaman tidak bisa menghindar air mata sang awan

Walaupun dia harus menanggung perih tak terkira

Yang membuat daun dan buah berwarna coklat membercak seperti koreng

Dia berharap sang tanah mampu memulihkan sakit yang di derita

Maafkan aku ….tanah berkata pada sang tanaman

Bukan aku tidak mau menolongmu

Tetapi, teman-teman kecilku yang telah membantukupun mati

Terkubur bersama kesakitan, setelah itu mungkin aku akan mengikuti jejak itu

Berharaplah pada matahari, agar selalu bersinar terik

Hingga awan tidak meneteskan air mata

Maafkan aku…..Matahari berkata pada tanah dan tanaman

Bukannya aku tidak mampu menolongmu

Karena teriknya panas yang ku pancarkan, asap-asap itu naik dan senang bermain-main di awan

Padahal aku ingin asap itu tidak mendatangi awan

Mungkin kita bisa minta bantuan sang angin

Angin mendesah gelisah

Memandang sahabat alamnya bersedih

tetapi diapun tidak kuasa berbuat

Maaf, aku tidak bisa membantu kalian?!

Lalu tanaman, tanah,  matahari dan angin  merenung…..

Mengapa kita tidak bicara pada ibu kita sang bumi? Tanya tanaman tersenyum

Aku selalu melihat ibu kita dari tempat yang tinggi ini

Dia sedang sakit berat yang tak tertahankan, matahari berkata sedih

Sang ibu yang kena penyakit stroke, hanya bisa mendengar semua keluhan mereka

tanpa mampu begerak untuk menolong

Air mata kesedihan menetes….semakin deras..deras…banyak..banyak….lalu BANJIR!