Hari ini Biyantara berkemas-kemas. Tidak lupa mainan pesawat helicopter kesayangannya ikut di masukan dalam ransel. Sebenarnya ide liburan sekolah ke rumah nenek di desa tidak dia suka. Dia lebih senang liburan di Jakarta. Karena dia bisa bermain helicopter dan playstation sepuasnya. Sedangkan di rumah nenek hanya ada televisi dengan stasiun lebih sedikit.
“Biyan! sudah berkemasnya? kita mau berangkat sekarang?” terdengar teriakan mama dari ruang tamu
“Iya ma! sebentar lagi”. Cepat Biyan memasukan semua baju-bajunya ke dalam ransel. Masih dengan membawa wajah kesal, dia keluar dari kamarnya. Mama dan Papanya sudah menunggu di dalam mobil. Biyan membuka pintu mobil tengah, dan duduk dengan wajah masih merengut. Dia masih kesal, karena papa dan mama hanya mengantar dia ke rumah nenek, setelah itu mereka kembali di Jakarta.
“Biyan, jangan merengut terus dong?” mama berbicara sembari menoleh ke belakang. “Nenek kangen sama kamu. Dan kesempatan hanya ada di waktu kamu liburan. Pasti kamu akan senang disana,” mama berusaha memberi pengertian pada Biyan.
Biyan tidak menjawab. Cukup dengan wajah yang masih merengut, mama tahu Biyananak laki-laki satu-satunya itu masih kesal.
Perjalanan ke rumah nenek hanya 2 jam. Nenek menyambut mereka dengan senang, dan langsung memeluk Biyan.
“Wah cucu nenek, sekarang sudah besar dan tambah ganteng?!” seru Nenek bahagia.
Biyan cuma senyum saja. Pikirannya masih melayang. Apa yang bisa dia lakukan di desa yang sepi seperti ini? pasti liburan seminggu disini seperti setahun.
“Ayo Biyan. Nenek tunjukkan kamar kamu,” nenek menggandeng tangan sang cucu ke kamar yang paling depan. Kamar itu bersih, ada satu lemari dan meja. Tidak ada televisi atau tape di kamar itu. Tidak seperti kamar dia yang di Jakarta semua ada di dalam kamar. Biyan masuk, meletakkan tas ranselnya. Nenek meninggalkan Biyan di kamar itu sendiri. Terdengar suara mama dan papa bercakap-cakap dengan nenek. Sorenya, mama dan papa pulang. Sementara Biyan tetap tinggal dengan nenek.
Nenek sangat baik sama Biyan. Tapi dia merasa kesepian, karena tidak ada playstation. Malam hari Biyan tidur lebih cepat dari biasanya, karena sudah tidak ada yang bisa dia lakukan. Paginya, nenek mengajak Biyan ke kebun belakang. Nenek mengajak Biyan untuk panen tomat.
“Cari tomat yang berwarna merah atau yang sudah ada marah-merahnya sedikit,” ujar nenek sembari memetik tomat dimasukan ke dalam keranjang. Biyan memetik tomat itu.
“Nek, bolehkan Biyan memakan tomat ini langsung?” Tanya biyan sembari memegang tomat yang berwarna merah segar.
“Boleh. Tapi kamu cuci dulu.”
Biyan berlari ke anak sungai yang tidak jauh dari kebun nenek, lalu dia mencuci tomat itu. Rupanya di seberang sungai itu, ada tanah lapang yang luas. Terpikir olehnya untuk mencoba helicopter baru yang dibelikan oleh papanya.
“Nek, setelah panen tomat ini, boleh Biyan bermain di tanah lapang itu?” Biyan bertanya sembari tangannya menunjuk tanah lapang itu.
Nenek tersenyum sambil memberikan anggukan.
Biyan langsung berlonjak gembira. Dia akan mencoba kehebatan pesawat helicopter yang memakai remote control itu. Rasanya tidak sabar untuk menyelesaikan panen ini. Dia ingin cepat bermain, walau hanya sendiri. Melihat kegembiraan itu, nenek menjadi senang.
“Biyan, kalau kamu mau main sekarang pergilah. Biar nenek yang panen tomat. Sebentar lagi juga selesai.” .
“Benar nek. Apa nenek tidak capek panen sendiri?”
“Tidak. nenek sudah biasa. Tadi nenek mengajak kamu panen supaya kamu tidak bosan berada di dalam rumah. Sekarang kalau kamu mau main tidak apa-apa”
Biyan berlari ke rumah nenek. Cepat dia mengambil pesawat helikopternya, lalu berlari ke tanah lapang. Dia membaca manual yang ada di dalam kotak tersebut. Helicopter terbang. Sesekali dia menahan helicopter melayang dengan posisi tetap, dan sesekali mencoba menukik.
“Asik!!! berhasil!” Biyan teriak senang. karena helicopter dapat terbang sesuai yang dia inginkan. Setelah puas, dia pulang ke rumahnya. Besoknya, kembali Biyan berlari ke tanah lapang itu. Dia akan mencoba berbagai atraksi di udara. Rupanya pagi itu ada seorang anak yang duduk dibawah pohon dekat sungai sedang menggambar. Karena tidak kenal, maka Biyan tidak menyapa anak itu. Biyan asik dengan segala atraksi yang dia coba. Mulai atraksi berputar, lepas landas secara tegak lurus, bertahan di udara tanpa maju atau mundur.
“Sempurna!” Biyan berteriak dengan senang.
Biyan sedikit melirik anak yang sedang menggambar. Anak itu rupanya terpana melihat atraksi helicopter Biyan. Dan anak kota ini merasa bangga. Tetapi setelah Biyan berhenti, anak itu sibuk menggambar lagi. Biyan penasaran ingin tahu gambar yang dibuat anak itu. Biyan berjalan mendekati anak itu.
“Hai” Biyan menyapa anak itu.
Anak itu cepat menutup buku gambarnya ketika mendengar Biyan menyapanya. Tapi Biyan masih sempat melihat gambar yang dibuat anak itu. Gambar helicopter dia yang sedang lepas landas secara tegak lurus. Anak itu berdiri sambil memegang buku gambarnya.
“Nama saya Biyan. Nama kamu siapa?” kembali Biyan menyapa lebih dahulu sembari mengulurkan tangan, karena tidak ada jawab dari si anak.
Dengan ragu anak itu mengulurkan tangannya. Lalu dia membuka buku gambarnya, menulis sebuah nama “Egi”. Baru Biyan tahu, anak itu bisu. Tidak bisa berbicara, tetapi bisa mendengar dan menulis.
“Boleh saya melihat gambar kamu yang lain?” Biyan bertanya dengan pelan dan hati-hati.
Anak itu menganggukkan kepala. Dia mulai membuka halaman pertama buku gambarnya. Terlihat gambar capung sedang terbang. Lembar berikutnya juga masih gambar capung yang beratraksi, hingga akhirya terlihat pesawat helicopter miliknya yang sedang lepas landas tegak lurus, dan di sebelahnya gambar capung dengan atraksi yang sama.
Biyan takjub. Karena semua atraksi yang dia lakukan tadi, sama dengan capung. Dan dia tidak pernah memperhatikan itu, padahal banyak capung beterbangan ditanah lapang ini.
“Gambar kamu bagus,” Biyan berkata jujur
Egi tersenyum senang mendapat pujian itu. Egi melakukan gerakan tangan menunjuk helicopter dan capung lalu menggerakkan kedua tangannya seperti terbang. Biyan bingung mengartikan bahasa isyarat itu. Melihat kebingungan itu, Egi menulis sesuatu di kertas gambarnya.
“Gerakan helicopter kamu dengan capung itu sama. Tapi kecepatannya berbeda. Capung jauh lebih cepat”.
“Oya?” Biyan menjawab seolah tak percaya. Egi menulis lagi di buku gambarnya.
“Besok, pagi kita bertemu lagi disini. Kamu bisa melihat cara capung terbang, dan kamu bisa mencoba mengikuti gerakan itu dengan helicopter kamu”
Biyan mengangguk setuju. Dan dia merasa senang, memiliki seorang teman yang pintar menggambar dan mengerti tentang capung. Pertemuan dengan Egi tidak diceritakan pada neneknya. Tetapi terlihat sekali wajah gembira Biyan. Dan nenek melihat itu.
“Senang sekali kamu hari ini Biyan?”
“Iya nek. Karena helicopter yang di beli papa sangat bagus. Besok bolehkan Biyan bermain ke tanah lapang itu pagi-pagi?”
“O…tentu saja boleh. Asal jangan lupa sarapan.”
“Iya nek.” Lalu Biyan masuk ke dalam kamarnya. Tak sabar rasanya menunggu esok pagi.
Esoknya, di bawah pohon di dekat sungai, terlihat Egi dan Biyan sedang memperhatikan capung terbang. “Apa yang kamu ketahui tentang capung-capung itu Gi?” Biyan memecah kesunyian antara mereka. Egi mengambil kertas gambarnya. Lalu menuliskan kalimat.
“Kalau kamu mau tahu, besok saya akan mengajak kamu ke suatu tempat. Tapi kamu harus izin dengan nenek , karena akan pulang sore. Sekarang saya akan menyelesaikan gambar capung dan helicopter kamu.”
Biyan mengangguk setuju. Tetapi dia bingung, bagaimana dia izin dengan neneknya. Semoga nenek memperbolehkan ucapnya di dalam hati. Rupanya, nenek memperbolehkan Biyan bermain sampai sore hari. Nenek tidak khawatir, karena desa ini aman. Berbeda jika dia di Jakarta. Dia tidak boleh keluar dari pagar rumah. Papa dan mama takut kalau dia di culik. Cara supaya Biyan betah di rumah, dengan mencukupi semua kesenangan Biyan, seperti mainan pesawat terbang, mobil-mobilan, DVD player, TV dan Play Station. Esoknya, Biyan dan Egi berjalan memasuki hutan kecil yang ada di desa itu. Egi berjalan di depan. Di dekat sungai kecil yang airnya jernih, Egi berhenti dan memegang tangan Biyan. Tiba-tiba tempat itu menjadi gelap, lalu mereka seperti berada di tempat lain. Tempat yang banyak di huni capung yang sedang berterbangan. Biyan memegang tangan Egi. Dia ketakutan.
“Tidak usah takut Biyan. Kamu akan baik-baik saja” ujar Egi sambil tersenyum.
Biyan terkejut, karena mendengar Egi bisa bicara. Padahal selama ini dia bisu.
“Kamu bisa bicara? tadi kamu bisu. Siapa kamu?” wajah Biyan pucat pasi. Dia sangat takut sekali.
“Sebenarnya saya adalah capung. Waktu melihat kamu menerbangkan pesawat helicopter, saya sangat tertarik karena gerakan helicopter itu mirip dengan gerakan yang kami lakukan di udara. Saya memohon pada pimpinan capung disini untuk merubah saya menjadi manusia untuk sementara. Pemimpin itu mengabulkan permohonan saya, tetapi saya bisu. Itulah mengapa saya selalu membawa buku gambar dan alat tulis. Selain untuk menggambar capung dan helicopter kamu, saya bisa berkomunikasi dengan kamu”.
Biyan masih diam, dan ketakutan.
“Ayo ikut saya. Kamu akan melihat banyak kehidupan kami,” Egi memegang tangan Biyan, dan mengajaknya ke pinggir sungai. Terlihat disana, seekor hewan memanjat batang tanaman yang ada di sungai, lalu melepas pembungkus tubuhnya. Hewan itu berubah jadi capung. Biyan kaget, karena dia tidak mengira jika hewan itu berubah menjadi capung.
“itu nimfa atau naiad. Sebelum kami menjadi capung, terlebih dahulu kami menjadi telur, berubah menjadi nimfa, lalu capung,” Egi menerangkan sebelum Biyan bertanya. Lalu Biyan memperhatikan capung yang baru keluar dari nimfa itu. Sayapnya masih melipat. terlihat gerakan yang tidak di mengerti oleh Biyan.
“Dia sedang melakukan apa gi?” Tanya Biyan dengan mata tidak lepas dari capung tersebut
“Dia sedang memompakan kelebihan cairan keluar agar sayapnya bisa berkembang dan dia bisa terbang.”
“Kamu tahu, selama menjadi nimfa, kami bisa bertahan 4 – 5 tahun. Saat itu kami memakan berudu dan ikan-ikan kecil. Tapi setelah kami menjadi capung, umur kami hanya sampai 4 bulan. Dan kami menangkap dan memangsa hewan di udara seperti kutu, ngengat, nyamuk, kupu-kupu dan kepik. Dan mata kami memiliki pandangan yang sangat luas, hingga tahu pandangan di belakang. Sepasang mata kami, masing-masing memiliki 30.000 lensa yang berbeda. Kehebatan dan kecepatan terbang kami bermanfaat saat berburu mangsa. Kami dapat berhenti tiba-tiba dan terbang berlawanan arah dengan kecepatan berapapun”.
Tidak terasa, waktu begitu cepat. Biyan masih dengan ketakjuban, tiba-tiba Egi menyentuh lengannya. Biyan kembali berada di sungai dekat lapangan dia bermain, tetapi dia hanya sendiri.
“Egiiiii!!! dimana kamu?”
Teriakan Biyan, hanya menggema dan kembali dia mendengar panggilannya sendiri. Hari sudah sore, Biyan takut nenek cemas, dia cepat berlari pulang ke rumah. Dia berharap, besok bisa bertemu dengan Egi lagi. Esoknya Biyan sudah berada di tanah lapang. Tetapi dia tidak menemukan Egi. Dia hanya melihat banyak capung yang berterbangan. Tiba-tiba ada satu capung terbang mendekatinya, dan berbisik di telinganya.
“Biyan, ini aku Egi. Ayo mainkan helikoptermu. Kamu akan melihat, bagaiman cepatnya saya terbang dan menukik”
“Egi, saya senang kamu masih menemani saya disini. Ayo kita balapan!”
Biyan mulai memainkan helicopter dengan remote di tangannya. Egi berada di sebelah helicopter itu. Lalu keduanya melesat terbang. Dan pemenangnya adalah Egi. bahkan Egi mampu mundur, berbalik arah lalu terbang. Biyan tertawa senang. Karena gerakan Egi begitu indah. Tak terasa hari sudah sore. Terlihat wajah Biyan sedih.
“Ada apa Biyan? kok kamu bersedih. bukankah tadi kamu tertawa gembira?”
“Besok saya akan pulang ke Jakarta. Saya sedih, karena tidak bisa bermain lagi dengan kamu. Di Jakarta, saya hanya bermain sendiri di dalam kamar”.
Egi terbang ke arah pohon, tempat dia biasa duduk. Rupanya disana ada buku gambar, yang biasa di pakai Egi untuk menggambar. Dengan gerakan sayap dan kepala, Egi meminta Biyan mengambil buku gambar itu.
“Ambillah buku gambar itu Biyan. Ini sebagai kenang-kenangan. Gambar-gambar capung yang ada di buku itu adalah gambar diriku sendiri. Jika kamu kangen, kamu bisa pandangi buku gambar ini. Semoga kita masih bisa bertemu”
Biyan sedih. Dia meneteskan air mata. Dia akan kehilangan teman yang baik.
“Biyan, jangan bersedih. Kamu bisa cerita pada temanmu tentang capung dan helicopter. Pasti mereka senang, dan kamu akan memiliki banyak kawan”.
Esoknya, terlihat Biyan sudah masuk dalam mobil. Papa dan Mama melihat raut kesedihan di wajah Biyan. Mereka berfikir, Biyan akan berlonjak kegirangan karena pulang ke Jakarta. Tetapi Papa dan Mama sepakat untuk diam, dan tidak bertanya tentang kesedihan itu. Saat mobil melaju, Biyan melihat seekor capung terbang di dekat jendela mobilnya, tanpa menabrak mobil. Biyan melambaikan tangannya. Dia tahu, itu Egi sahabatnya.
Di dalam kelas, terlihat Biyan sedang menceritakan tentang kehebatan capung dan membandingkan dengan pesawat helicopter. Dan dia juga memperlihatkan gambar-gambar yang dibuat oleh Egi. Seisi kelas dan guru kagum dengan cerita Biyan. Setelah Biyan selesai cerita, Bu guru meminta tulisan Biyan di tempel di mading sekolah, beserta gambar yang dibuat Egi. Semua anak jadi mengenal Biyan, karena tulisan yang dia buat, walaupun mereka semua penasaran teman Biyan bernama Egi yang jago menggambar. Biyan sekarang banyak kawan. Dalam tidurnya Biyan berharap bisa bertemu Egi untuk mengucapkan kata terimakasih. Berkat Egi, Biyan sekarang tidak kesepian. Di sekolah dia banyak teman, dan di rumah teman-temannya datang untuk belajar bersama tentang pelajaran dan keunikan-keunikan hewan-hewan yang ada disekitar mereka. Kini Biyan sudah tidak kesepian lagi.
Metro, 28 February 2011